Tikus di DPRD Simalungun: Peringatan Dini di Tengah Belanja Siluman APBD Simalungun 2026

(Foto Penyerahan tikus kepada sekretaris dewan DPRD Simalungun 
Sumber : Admin)


bemstaipancabudinews.com SIMALUNGUN - Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) dan Forum Pemuda Simalungun menggeruduk Gedung DPRD Simalungun pada Senin (6/4/2026). Bukan sekadar orasi, mereka menyerahkan simbol yang tak biasa: beberapa ekor tikus. Maknanya? Peringatan dini atas potensi pemborosan dan penyimpangan anggaran di Sekretariat DPRD.

Dalam bahasa mahasiswa, APBD bukanlah sekadar dokumen administratif yang mati. Ia adalah instrumen kebijakan publik yang harus menyentuh akar persoalan: pendidikan, kesehatan, infrastruktur. Maka penyusunannya wajib berlandaskan skala prioritas yang rasional, transparan, dan berpihak pada rakyat. Bukan sekadar formalitas birokrasi.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Dari 50 anggota dewan, tak satu pun hadir. Aspirasi hanya diterima oleh Sekretaris Dewan yang lalu meneken pakta integritas di atas materai. Komitmen setengah hati, tanpa jaminan tindak lanjut. Ketidakhadiran itu sendiri adalah jawaban: DPRD tak responsif, bahkan alergi terhadap kritik publik.

(Foto bersama BEM STAI Panca Budi dengan BEM Universitas Efarina
Sumber : Admin)


Nia Ramadhani Damanik, Presiden Mahasiswa STAI Panca Budi sekaligus pimpinan aksi, dengan tegas menyebut simbol tikus bukanlah ancaman. “Kritik moral yang konstruktif,” katanya. Peringatan agar DPRD untuk menggunakan anggaran dengan sebaik-baiknya 


Mahasiswa menggulirkan delapan tuntutan. Dari yang paling mendasar: transparansi penuh APBD 2026, audit independen anggaran Sekretariat DPRD, hingga efisiensi belanja non-prioritas yang selama ini kerap menjadi celah korupsi. Mereka juga mendorong pembenahan total RSUD Perdagangan, percepatan infrastruktur yang timpang, hingga penegakan hukum atas kasus penyiraman aktivis Andri Yunus. Tak ketinggalan, jaminan kebebasan berpendapat tanpa intimidasi.

Ini bukan sekadar aksi seremonial. Ini adalah tegangan antara kontrol sipil dan kekuasaan yang tertutup. Mahasiswa memperingatkan: jika aspirasi terus diabaikan, gelombang massa yang lebih besar akan kembali. Dan tikus-tikus itu mungkin bukan sekadar simbol. DS

Posting Komentar

0 Komentar