bemstaipancabudinews.com | SEMARANG - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Panca Budi mengkonfirmasi keikutsertaan dalam Musyawarah Nasional BEM Seluruh Indonesia (MUNAS BEM SI) yang digelar di Politeknik Negeri Semarang pada 27 Juli–1 Agustus 2026.
Kehadiran mereka tidak bersifat seremonial semata, melainkan sebagai bagian dari upaya menyuarakan persoalan struktural yang dihadapi kampus dan masyarakat di Kabupaten Simalungun. Dalam forum tersebut, STAI Panca Budi menunjuk Bennico Dwi Artha, Wakil Presiden Mahasiswa, sebagai delegasi resmi.
Bennico menyatakan bahwa dua isu utama akan diperjuangkan, pertama minimnya intervensi pemerintah dalam pemenuhan hak mahasiswa, khususnya terkait distribusi beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang dinilai tidak optimal menjangkau kampus kecil. Kedua dukungan terhadap wacana pemekaran wilayah Kabupaten Simalungun yang dinilai mendesak untuk pemerataan pembangunan.
Di luar agenda formal, Bennico mengungkapkan dinamika institusional yang cukup kontras. Ia menyebut bahwa pihak kampus sama sekali tidak memberikan dukungan finansial maupun logistik bagi keberangkatan delegasi. Bahkan, ia mengisyaratkan adanya kendala lain yang tidak dapat dipaparkan secara terbuka. “Kami memilih tetap berangkat dengan kemampuan sendiri, karena ini adalah momentum strategis untuk menegaskan eksistensi kampus kecil di peta nasional. Tapi saya akan tetap membawa nama kampus yang saya cintai ini. Visi kami sejalan dengan kepentingan kampus, namun jalannya berbeda. Sebagai lembaga tertinggi di tingkat mahasiswa, BEM memiliki ruang gerak melalui partisipasi dalam agenda-agenda nasional,” ujarnya.
Kordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia, Muzammil Ihsan menyampaikan komitmen untuk mendukung pergerakan dari BEM STAI Panca Budi "Saya akan mendukung penuh apa yang menjadi isu yang dibawa BEM STAI Panca Budi. Kebetulan nanti di MUNAS kita akan dihadiri oleh Menteri pendidikan tinggi, sains, dan teknologi, saya sendiri nanti yang akan menyampaikan kepada beliau. Agar bisa langsung ditindaklanjuti." Ungkap Muzammil.
Keberangkatan BEM STAI Panca Budi ke MUNAS BEM SI bukan sekadar catatan perjalanan organisasi, melainkan potret kecil dari relasi yang timpang antara mahasiswa dan institusi kampus di daerah. Ketika semangat membesarkan nama kampus tak sejalan dengan dukungan nyata dari pucuk pimpinan, maka mahasiswa pun terpaksa menemukan jalannya sendiri.
Bennico dan kawan-kawan memilih tetap melangkah, bukan karena cukup biaya, melainkan karena percaya bahwa suara kampus kecil layak didengar di panggung nasional. Namun, pertanyaan yang mengendap adalah apakah kampus akan terus membiarkan mahasiswanya berjuang sendiri, atau justru melihat ini sebagai cermin untuk membenahi tata kelola dan keberpihakan? Di tengah hiruk-pikuk musyawarah nasional, satu hal pasti: gerakan mahasiswa tetap hidup, meski kadang harus tumbuh dari akar yang tak disiram.

0 Komentar