Hari ini kita sering menilai anak-anak yang tidak melanjutkan pendidikan sebagai anak yang malas atau tidak memiliki kemauan untuk belajar. Padahal jika kita benar-benar melihat realitas di lapangan, kenyataannya tidak sesederhana itu. Hampir tidak ada anak yang tidak ingin sekolah. Setiap anak memiliki mimpi untuk berhasil dan meraih masa depan yang lebih baik.
Namun sayangnya, banyak dari mereka yang harus mengubur mimpi itu karena keadaan. Bukan karena mereka tidak mau belajar, tetapi karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mampu menopang pendidikan mereka. Di berbagai daerah, kita masih melihat anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah justru harus bekerja membantu orang tua demi bertahan hidup.
Ada yang ikut bekerja di kebun, ada yang menjadi buruh harian, bahkan ada yang harus berhenti sekolah sejak usia belasan tahun. Ini bukan sekadar cerita, tetapi potret nyata yang masih terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.
Fenomena ini semakin terlihat ketika anak-anak memasuki jenjang pendidikan menengah.
Ironisnya, sebuah peristiwa memilukan pernah terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa sekolah dasar berinisial YBS (10) diduga mengakhiri hidupnya karena putus asa tidak mampu membeli buku dan pena yang harganya bahkan kurang dari Rp10.000. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa bagi sebagian anak di negeri ini, akses terhadap pendidikan masih menjadi perjuangan yang sangat berat.
Padahal negara ini sejak awal berdiri telah memiliki cita-cita besar yang tertulis dalam Undang-Undang Dasar 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun pertanyaannya, apakah cita-cita itu benar-benar diperjuangkan dengan sungguh-sungguh? Ataukah hanya menjadi kalimat indah yang terus diulang dalam pidato para pejabat?
Jika masih banyak anak yang tidak mampu mengakses pendidikan karena masalah ekonomi, maka sebenarnya ada yang keliru dalam cara kita memprioritaskan masa depan bangsa ini. Pendidikan seharusnya menjadi hak yang benar-benar dijamin oleh negara, bukan sesuatu yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi.
Sebab mundurnya suatu negara bukan hanya disebabkan oleh krisis ekonomi atau konflik politik, tetapi juga oleh menurunnya kualitas sumber daya manusia generasi mudanya.
Jika hari ini banyak anak kehilangan kesempatan untuk belajar, maka sesungguhnya bangsa ini juga sedang kehilangan calon pemimpin, calon ilmuwan, calon guru, dan calon pemikir masa depan.
Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah. Pendidikan adalah urusan masa depan bangsa. Karena itu, negara harus benar-benar hadir untuk memastikan setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan meraih cita-citanya.
Sebab jika pendidikan terus diabaikan, maka kita sebenarnya sedang menanam benih kemunduran bagi bangsa ini di masa yang akan datang. NRD


0 Komentar